Strategi Literasi dalam Pembelajaran Kurikulum 2013 di SMK

Kontributor : On Oktober 30, 2018

Berikut ini adalah berkas mengenai Strategi Literasi dalam Pembelajaran Kurikulum 2013 di SMK. Strategi Literasi dalam Pembelajaran Kurikulum 2013 di SMK ini merupakan salah satu Materi Pokok dalam Pelatihan dan Pendampingan Implementasi Kurikulum 2013 SMK, diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2018. Download file format .doc Microsoft Word dan .pptx Microsoft PowerPoint.

Strategi Literasi dalam Pembelajaran Kurikulum 2013 di SMK
Strategi Literasi dalam Pembelajaran Kurikulum 2013 di SMK

Keterangan:
Di bawah ini kutipan teks/keterangan dari isi berkas mengenai Strategi Literasi dalam Pembelajaran Kurikulum 2013 di SMK.

KATA PENGANTAR
Peraturan Presiden nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan karakter pasal 3 mengamanatkan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggungjawab. Hal ini menguatkan jalannya Gerakan Literasi Sekolah yang telah dicanangkan sejak akhir tahun 2014. Berbagai upaya dilakukan untuk menggerakkan ekosistem sekolah dalam melakukan kegiatan berliterasi dan mengembangkan sikap. Upaya sistematis dan berkesinambungan perlu dilakukan untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa. Saat ini, program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) untuk menumbuhkan minat baca dan kecakapan literasi telah dicanangkan di sebagian sekolah dalam berbagai kegiatan, antara lain 15 menit membaca sebelum pembelajaran, sebagaimana diamanatkan oleh Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015. 

Sejalan dengan implementasi PPK, telah dituliskan dalam Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah maupun Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah di SMK telah dijelaskan bahwa tahapan GLS meliputi pembiasaan, pengembangan dan pembelajaran. Seiring dengan maraknya kegiatan literasi sekolah, telah memperlihatkan kepedulian masyarakat sekolah terhadap bahan dan kegiatan literasi, namun kegiatan literasi di sekolah masih belum terlalu menyentuh aspek pembelajaran di ruang kelas. Gerakan ini perlu disempurnakan dengan panduan teknis dan pelatihan-pelatihan untuk memampukan guru melaksanakan pembelajaran berbasis literasi, yang disusun dalam Materi Penyegaran bagi Instruktur Kurikulum 2013.

Materi Penyegaran bagi Instruktur Kurikulum 2013 ini sekaligus menjadi materi pendampingan bagi guru sasaran yang disusun sebagai upaya memberikan inspirasi kepada guru dalam mengimplementasikan literasi di kelas melalui strategi literasi dalam pembelajaran, maupun implementasi GLS untuk mewujudkan PPK berbasis Budaya Sekolah dalam hal literasi. Dengan strategi tersebut diharapkan dapat meningkatkan performa literasi peserta didik SMK, maupun ekosistem sekolah. 

Materi ini terutama menekankan pada peningkatan keterampilan memahami konten bacaan, konsepsi yang disajikan pada bacaan, dan kemampuan berpikir melalui bacaan pada strategi sebelum, selama, dan sesudah membaca serta Kemampuan berpikir tinggi merupakan salah satu kompetensi capaian implementasi Kurikulum 2013. Materi ini juga memberikan penjelasan tentang model implementasi kegiatan pembiasaan melalui 15 menit membaca dan metode membaca, Cara Memilih Buku, Mengembangkan Lingkungan Kaya Teks, Pojok Baca Sekolah dan Perpustakaan kelas. Materi penyegaran Kurikulum 2013 dilengkapi dengan modul, materi presentasi dan lembar kerja yang memandu aktivitas peserta untuk mendalami dan mengimplementasi pembelajaran berbasis literasi. Semua perangkat ini diharapkan menjadi acuan bagi instruktur dan pemangku kepentingan di jenjang nasional, provinsi, kabupaten/kota dan sekolah untuk meningkatkan kecakapan literasi siswa secara efektif dan berkesinambungan.
Jakarta, Desember 2017
Tim Penyusun-Satgas GLS Kemdikbud

DAFTAR ISI
JUDUL 
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Penyusunan
C. Masalah
D. Solusi

BAB II IMPLEMENTASI KEGIATAN LITERASI
A. Persiapan
1. Rapat Koordinasi
2. Pembentukan Tim Literasi di Sekolah (TLS)
3. Sosialisasi
4. Persiapan Sarana Prasarana

B. Pelaksanaan
1. Tiga Tahapan Pelaksanaan
2. Strategi Membangun Budaya Literasi
3. Pemantauan, Evaluasi, dan Tindak Lanjut

BAB III STRATEGI LITERASI DALAM PEMBELAJARAN
A. Tujuan
B. Kecakapan Literasi
C. Peta Konsep Strategi Literasi dalam Pembelajaran
D. Indikator Literasi dalam Pembelajaran
E. Alat Bantu

BAB IV PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN 

Lampiran 1.1 STRATEGI LITERASI DALAM PEMBELAJARAN 
Lampiran 1.2 KEGIATAN PADA STARTEGI LITERASI DALAM PEMBELAJARAN
Lampiran 1.3 INDIKATOR LITERASI DALAM PEMBELAJARAN
Lampiran 2.1 Contoh RPP Untuk Mapel Matematika
Lampiran 2.2 Contoh RPP Untuk Mapel Tata Kecantikan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Literasi tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana peserta didik dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatkannya di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan peserta didik, baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya untuk menumbuhkan budi pekerti mulia. Literasi, di awal, dimaknai ‘keberaksaraan’ dan selanjutnya dimaknai ‘melek’ atau ‘keterpahaman’. Pada langkah awal, ‘melek baca’ dan ‘tulis’ ditekankan karena kedua keterampilan berbahasa ini merupakan dasar bagi pengembangan melek dalam berbagai hal atau disebut “multiliterasi”. 

Menurut Abidin (2015), multiliterasi dimaknai sebagai keterampilan menggunakan beragam cara untuk menyatakan dan memahami ide-ide dan informasi dengan menggunakan bentuk-bentuk teks konvensional maupun bentuk-bentuk teks inovatif, simbol, dan multimedia. Beragam teks yang digunakan dalam satu konteks ini disebut multimoda (multimodal text). Multiliterasi, pada dasarnya dapat terdiri atas berbagai hal, seperti baca-tulis, matematika, sains, teknologi informasi komunikasi, kebudayaan dan kewarganegaraan, kesehatan, keselamatan (jalan, mitigasi bencana), kriminal (menuju sekolah aman), gesture, dan semua lingkup kehidupan. 

Dalam konteks GLS, literasi merupakan kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/berbicara (Panduan GLS SMK tahun 2016). 

Agar mampu bertahan di abad 21, masyarakat harus menguasai enam literasi dasar, yaitu literasi baca-tulis, literasi berhitung, literasi sains, literasi teknologi informasi dan komunikasi, literasi keuangan serta literasi budaya dan kewarganegaraan. Tiga literasi lainnya yang perlu dikuasai adalah literasi kesehatan, literasi keselamatan (jalan, mitigasi bencana), dan literasi kriminal (bagi siswa SD disebut “sekolah aman”) (Wiedarti, Mei 2011). Literasi gestur juga perlu dipelajari untuk mendukung keterpahaman makna teks dan konteks dalam masyarakat multikultural dan konteks khusus para disabelitas. 

Berdasarkan uraian tersebut, istilah literasi merupakan sesuatu yang terus berkembang atau terus berproses, yang pada intinya adalah pemahaman terhadap teks dan konteksnya sebab manusia berurusan dengan teks sejak dilahirkan, masa kehidupan, hingga kematian. Keterpahaman terhadap beragam teks akan membantu keterpahaman kehidupan dan berbagai aspeknya karena teks itu representasi dari kehidupan individu dan masyarakat dalam budaya masing-masing. 

Semuanya mengarah pada pemahaman multiliterasi. Adapun pembelajaran yang bersifat multiliterasi, memadukan karakter, dan keterampilan abad ke-21 (keterampilan berpikir tingkat tinggi; 4Cs: Critical thinking and problem solving, Creativity and innovation; Collaboration, teamwork and leadership, Communication and media fluency), diharapkan dapat menjadi bekal kecakapan hidup sepanjang hayat. 

Saat ini, kegiatan di sekolah ditengarai belum optimal mengembangkan kemampuan literasi warga sekolah, khususnya guru dan siswa. Hal ini disebabkan, antara lain oleh minimnya pemahaman warga sekolah terhadap pentingnya kemampuan literasi dalam kehidupan mereka serta minimnya penggunaan buku-buku di sekolah (selain buku-teks pelajaran). Kegiatan membaca di sekolah masih terbatas pada pembacaan buku teks pelajaran dan belum melibatkan jenis bacaan lain. 

Pada sisi lain, hasil beberapa tes yang telah dilakukan adalah sebagai berikut.
  1. PIRLS atau Progress International Reading Literacy Study (PIRLS) mengevaluasi kemampuan membaca peserta didik kelas IV. Dalam PIRLS 2011 International in Reading, Indonesia menduduki peringkat 45 dari 48 negara peserta dengan skor 428 dari skor rata-rata 500 (IEA, 2012).
  2. PISA atau Programme for International Student Assessment mengevaluasi kemampuan peserta didik berusia 15 tahun dalam hal membaca, matematika, dan sains. PISA 2009 peserta didik Indonesia berada dalam peringkat ke-57 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 493) dan di tahun 2012 peringkat ke-64 dari 65 negara dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 496) (OECD, 2013), Sedangkan tahun 2015 peringkat 64 dari 70 negara.
  3. INAP atau Indonesia National Assassment Program (INAP) mengevaluasi kemampuan siswa dalam hal membaca, matematika, dan sains. Hasil INAP tahun 2016 menunjukkan bahwa nilai kemampuan membaca peserta didik Inonesia 46,83% (kurang).

Data ini selaras dengan temuan UNESCO (2012) terkait kebiasaan membaca masyarakat Indonesia yang menyatakan bahwa hanya satu dari 1.000 orang Indonesia yang membaca. Kondisi demikian ini jelas memprihatinkan karena kemampuan dan keterampilan membaca merupakan dasar bagi pemerolehan pengetahuan, keterampilan, dan pembentukan sikap peserta didik. Oleh sebab itu, dibentuklah Satuan Tugas Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai salah satu alternatif untuk menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat (Wiedarti dan Kisyani-L. ed., 2016).

Upaya sistematis dan berkesinambungan perlu dilakukan untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa. GLS untuk menumbuhkan minat baca dan kecakapan literasi telah dicanangkan sejak tahun 2016, namun saat ini belum terlalu menyentuh aspek pembelajaran di kelas. Beberapa panduan terkait GLS telah diterbitkan tahun 2016 oleh Dikdasmen Kemendikbud, yakni (1) Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah, (2) Panduan Gerakan Literasi Sekolah (untuk setiap jenjang pendidikan), antara lain Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan. 

Saat ini, GLS perlu disempurnakan dengan panduan Bimbingan Teknis dan Pelatihan atau Penyegaran untuk memampukan guru melaksanakan strategi literasi dalam pembelajaran. Salah satu pelatihan tersebut adalah Pelatihan dan/atau Bimbingan Teknis Penyegaran Instruktur Kurikulum 2013. Materi yang disajikan tentang kegiatan pembiasaan berliterasi, macam metode membaca, memilih buku yang baik, membangun lingkungan kaya teks, pojok baca (area baca di sekolah) dan perpustakaan kelas terutama menekankan pada peningkatan keterampilan mengelola pembelajaran dengan strategi literasi untuk meningkatkan kecakapan literasi siswa, membentuk karakter, dan mengembangkan keterampilan abad ke-21 (keterampilan berpikir tingkat tinggi dan 4Cs). Keterampilan berpikir tingkat tinggi (keterampilan abad ke-21) merupakan salah satu kompetensi capaian implementasi Kurikulum 2013. 

Materi penyegaran Kurikulum 2013 ini terwujud dalam bentuk modul, materi presentasi, dan alat bantu berwujud pengatur grafis yang memandu aktivitas peserta untuk mendalami dan mengimplementasi strategi literasi dalam pembelajaran. Semua perangkat ini diharapkan dapat memandu instruktur dan pemangku kepentingan di jenjang nasional, provinsi, kabupaten/kota, dan sekolah dalam pelaksanaan, pengembangan, dan penguatan strategi literasi dalam pembelajaran. 

B. Tujuan Penyusunan
Tujuan penyusunan materi penyegaran ini adalah untuk: 
  1. memberikan pemahaman tentang konsep umum Gerakan Literasi Sekolah;
  2. memberikan penjelasan tentang Jenis-jenis Literasi Dasar dan penggunaannya di SMK;
  3. memberikan penjelasan tentang implementasi tahapan GLS di SMK;
  4. memberikan penjelasan tentang hakikat literasi dan mengapa program pembiasaan berliterasi itu penting;
  5. memberikan inspirasi kepada peserta pelatihan untuk memanfaatkan beragam sumber belajar, termasuk buku-teks-pelajaran dan buku-nonteks-pelajaran dalam pembelajaran;
  6. memberikan penjelasan tentang berbagai macam metode membaca dalam pembiasaan literasi di sekolah dan cara memilih buku yang baik;
  7. memberikan penjelasan tentang membangun lingkungan kaya teks, Pojok baca di sekolah dan perpustakaan kelas; dan
  8. memandu peserta pelatihan menggunakan strategi literasi dalam pembelajaran guna meningkatkan pemahaman siswa terhadap bacaan, kemampuan berpikir siswa, dan kecakapan komunikasi siswa.

C. Masalah
Masalah 1
Pengembangan kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan literasi khususnya mengembangkan minat baca belum berjalan secara optimal di sekolah karena beberapa guru memiliki pemahaman berbeda atau kurang memadai tentang literasi. Guru seharusnya dapat menjadi teladan yang baik bagi siswanya, termasuk dalam membaca. Saat guru meminta siswa membaca, guru pun juga perlu membaca untuk memberi contoh yang baik bagi siswanya. Hal ini terlihat pada saat berlangsungnya kegiatan 15 menit membaca sebelum pembelajaran, peserta didik membaca tetapi guru melakukan kegiatan lain, seperti ‘ngobrol’, berkomunikasi menggunakan gawai,dll. Tradisi literasi (kemampuan komunikasi yang artikulatif secara verbal dan tulisan serta kemampuan menyerap informasi melalui bacaan) juga belum tumbuh secara koheren dalam diri beberapa guru. 

Masalah 2
Upaya untuk menyosialisasikan dan meningkatkan kemampuan literasi di sekolah belum membuahkan hasil yang optimal karena kurangnya pendampingan dan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan literasi guru. Selain itu, materi ajar dan bahan bacaan yang tersedia di sekolah belum dimanfaatkan secara optimal untuk mengembangkan kemampuan literasi siswa.

D. Solusi
Guru perlu memahami bahwa upaya pengembangan literasi, tidak berhenti ketika peserta didik dapat membaca dengan lancar. Pengembangan literasi perlu terjadi pada pembelajaran di semua mata pelajaran melalui upaya untuk meningkatkan kemampuan berpikir analitis, kritis, kreatif, dan memecahkan masalah. Para guru perlu memasukkan strategi literasi dalam pembelajarannya. Pengembangan kemampuan literasi di sekolah akan membantu meningkatkan kemampuan belajar siswa. Penggunaan bacaan atau bahan ajar yang bervariasi, disertai dengan perencanaan yang baik dalam kegiatan pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan kemampuan literasi siswa. Guru perlu menggalakkan kegiatan berliterasi dengan tidak hanya membatasi dengan kegiatan membaca, namun juga melakukan pengalakan kegiatan menulis dan memproduksi tek, karya maupun aktivitas yang menggunakan berbagai moda dalam pembelajaran maupun kegiatan pengayaan lainnya.


BAB II
IMPLEMENTASI KEGIATAN LITERASI

Untuk mengimplementasikan penumbuhan budaya literasi di sekolah diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: persiapan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan tindak lanjut. Persiapan merupakan kegiatan menyiapkan bahan, personal, dan strategi pelaksanaan. Pelaksanaan merupakan operasionalisasi yang telah dipersiapkan. Pemantauan, evaluasi, tindak lanjut merupakan kegiatan untuk mengetahui efektivitas kegiatan literasi yang telah dilaksanakan. Tiga hal yang terakhir ini tidak akan dibahas di sini karena dapat dicermati dalam Desain Induk GLS (Wiedarti dan Kisyani-L., 2016).

Penumbuhan literasi di sekolah dapat dilakukan melalui kegiatan rutin dan kegiatan insidental. Kegiatan tersebut dilakukan dalam tiga tahapan literasi yaitu tahap pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Agar dapat melaksanakan tiga tahapan literasi tersebut diperlukan kegiatan persiapan, sebagai berikut.

A. Persiapan
1. Rapat Koordinasi
Kegiatan ini dilaksanakan untuk membicarakan tentang maksud dan tujuan dilaksanakannya literasi di sekolah. Dalam rapat koordinasi membahas, antara lain tentang persiapan implementasi GLS, sosialisasi GLS, pembentukan Tim Literasi Sekolah (TLS), menyusun program kerja GLS, serta penyiapan sarana dan sarana GLS. Rapat koordinasi diikuti oleh:
a. Kepala Sekolah
b. para Wakil Kepala Sekolah
c. perwakilan guru dan staf sekolah lainnya

Tujuan rapat koordinasi ini, antara lain:
a. pemahaman tentang literasi,
b. pembentukan tim literasi sekolah (TLS),
c. menyusun program kerja literasi sekolah, dan 
d. mempersiapkan materi literasi.

2. Pembentukan Tim Literasi di Sekolah (TLS)
Kepala sekolah membentuk TLS melalui Surat Keputusan Kepala Sekolah yang menyertakan tugas pokok dan fungsi TLS (menyusun program kerja, penyiapan sarana dan sarana, mengimplementasikan, dan menyiapkan monev internal/eksternal GLS). Susunan anggota TLS disesuaikan dengan kebutuhan sekolah masing-masing. 

3. Sosialisasi
a. Sosialisasi kepada Tenaga Pendidik dan Kependidikan.
Sosialisasi ini dimaksudkan untuk menyamakan persepsi dan komitmen guru dan karyawan tentang pelaksanaan kegiatan literasi di sekolah.

b. Sosialisasi kepada Siswa
Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang literasi, tujuan pelaksanaan literasi dan mekanisme pelaksanaan literasi.

c. Sosialisasi kepada Komite Sekolah dan Orang Tua Siswa.
Sosialisasi pada Komite Sekolah dan orang tua siswa bertujuan untuk memberikan dukungan terhadap kegiatan literasi di sekolah dan berharap agar komite dan orang tua siswa juga mendukung program tersebut. Dalam kegiatan sosialisasi tersebut diperlukan narasumber yang memahami dan mampu menjelaskan tentang literasi di sekolah.

4. Persiapan Sarana Prasarana
Untuk menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah diperlukan ekositem sekolah yang literat dengan dukungan sarana dan prasarana penunjang yang perlu dimiliki oleh sekolah, antara lain:
a. perpustakaan sekolah, 
b. perpustakaan kelas dan pojok baca di lingkungan sekolah,
c. buku pengayaan,
d. laman sekolah yang disertai interface literasi,
e. akses internet di lingkungan sekolah,
f. banner dan spanduk penumbuhan budaya literasi diletakan pada sejumlah lokasi di sekolah,
g. poster-poster budaya literasi di lingkungan sekolah, dan 
h. leaflet Gerakan Literasi di sekolah

B. Pelaksanaan
1. Jenis-Jenis Literasi
Sebagaimana Desain Induk GLS, mengutip Clay (2001) dan Ferguson (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf), menjabarkan bahwa ,komponen literasi informasi terdiri atas literasi dini, literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual. Dalam konteks Indonesia, literasi dini diperlukan sebagai dasar pemerolehan berliterasi tahap selanjutnya. Komponen literasi tersebut dijelaskan sebagai berikut:

a. Literasi Dini
Literasi Dini [Early Literacy (Clay, 2001)], yaitu kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah. Pengalaman peserta didik dalam berkomunikasi dengan bahasa ibu menjadi fondasi perkembangan literasi dasar.

b. Literasi Dasar
Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mem persepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.

c. Literasi Perpustakaan
Literasi Perpustakaan (Library Literacy), antara lain, memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah.

d. Literasi Media
Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya.

e. Literasi Teknologi
Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam praktiknya, juga pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) yang di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengelola data, serta mengoperasikan program perangkat lunak. Sejalan dengan membanjirnya informasi karena perkembangan teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.

f. Literasi Visual
Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audio-visual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang tidak terbendung, baik dalam bentuk cetak, auditori, maupun digital (perpaduan ketiganya disebut teks multimodal), perlu dikelola dengan baik. Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benar-benar perlu disaring berdasarkan etika dan kepatutan

Apa sajakah jenis Literasi Dasar?
a. Literasi Baca Tulis
Gerakan Literasi Nasional (GLN), mendefiniskan Literasi Baca Tulis, adalah kemampuan untuk, 
  1. Memahami teks tertulis, baik yang tersirat maupun tersurat, dan menggunakannya untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi diri;
  2. Menuangkan gagasan dan ide ke dalam tulisan dengan susunan yang baik untuk berpartisipasi di lingungan sosial.

Untuk penguatan Literasi Baca tulis ini, di SMK diperlukan latihan-latihan untuk pembiasaan di sekolah agar peserta didik mempunyai kecakapan dalam memahami informasi dan kemahiran dalam membaca dan menulis. Lebih lanjut hasil dari kecakapan Literasi Baca Tulis adalah, kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/berbicara. Hal ini sangat berguna bagi siswa SMK dalam menyelesaikan tugas-tugas memahami berbagai manual/panduan atau petunjuk maupun penyusunan laporan yang bisas dilakukan dalam tugas-tugas praktik.

b. Literasi Numerasi
Sebagaimana definisi GLN, bahwa Literasi Numeraasi adalah, 
  1. Kecakapan untuk menggunakan berbagai macam angka dan symbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari;
  2. Kecakapan untuk menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk grafik, tabel, bagan dan menggunakan interpretasi hasil analisis untuk memprediksi dan mengambil keputusan.
Meskipun literasi numerasi dan matematika keduanya berlandaskan kepada pengetahuan dan keterampilan yang sama, namun, pengetahuan matematika saja tidak membuat sesorang memiliki numerasi. Numerasi mencakup mengaplikasikan konsep dan kaidah matematika dalam situasi riil sehari-hari, yang seringkali permasalahannya tidak terstruktur, memiliki banyak cara penyelesaian atau bahkan tidak ada penyelesaian yang tunta, serta berhubungan dengan factor non matematis. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perbedaan matematika dan numerasi terletak pada pemberdayaan pengetahuan dan keterampilan tersebut. 

Berpegang pada definisi tersebut, maka dalam keterampilan di bidang literasi numerasi ini, bukan hanya kemampuan menghitung, namun juga memperhitungkan. Memperhitungkan segala sesuatu untuk pemecahan masalah sebelum mengambil keputusan, termasuk memperhitungkan untung-rugi sebelum menentukan langkah. Kecakapan ini perlu dilatih dan dibiasakan sebagai bentuk upaya penggunaan kemampuan berpikir kritis dalam memecahkan masalah dan menentukan solusi. Siswa SMK sangat perlu berlatih dalam hal ini agar dapat menjadi nilai tambah dalam produktivitas kerja. Potensi dan kecakapan literasi merupakan salahsatu karakter kerja.

c. Literasi Sains
GLN mendefinisikan Literasi sains, adalah 
  1. Kecakapan memahami fenomena alam dan sosial sekitar kita
  2. Kecakapan untuk mengambil keputusan yang tepat secara ilmiah agar kita dapat hidup dengan lebih nyaman, lebih sehat dan lebih baik
Bagi Siswa SMK, Literasi Sains sangat berguna untuk menerapkan hukum-hukum sains dalam pembelajaran dan menghadapi pekerjaan. Karena pemahaman akan fenomena sosial akan sangat menolong dalam mengambil keputusan untuk menjalani tugas pekerjaan agar mempunyai kemanfaatan bsar bagi kehidupan sesama. Misalnya, siswa pariwisata menggunakan fenomena sosial dalam pemberian layanan terhadap tamu hotel atau menyiapkan agenda tour; siswa dari program studi seni kriya dapat mengguanakan pemahaman terhadap fenomena sosila dalam menciptakan karya seni sesuai bidang kekriyaannya.

d. Literasi Digital/ TIK
Sesuai dengan definisi dari GLS, bahwa Literasi Digital, adalah kecakapan menggunakan media digital dengan beretika dan bertanggungjawab untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi. 

Gaya hidup digital, adalah istilah yang seringkali digunakan untuk menggambarkan gaya hidup modern yang penuh dengan pemanfaatan teknologi informasi. Misalnya menggunakan jasa taksi daring, belanja dengan sistem daring, dan tentu saja dalam berkomunikasi dan mengakses informasi. Hal ini sangat berpengaruh terhadap pengembangan proses pembelajaran di SMK. Siswa SMK harus mengenal tentang penggunaan internet dalam pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari. Kegiatan perancangan desain komunikasi visual, aplikasi sofware, animasi banyak digunakan di SMK. Diperlukan pula pemahaman tentang transaksi elektronik dan penggunaan sistem daring dalam pemasaran produk.

e. Literasi Finansial
Literasi Finansial, adalah pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep, risiko, kete-rampilan, dan motivasi dalam konteks finansial. 

Dalam menumbuhkembangkan literasi finansial ini, di Sekolah perlu ditanamkan tentang fungsi uang, yaitu pertama, untuk hidup (dibelanjakan dalam memenuhi kebutuhan); kedua, ditabung-sebagai persiapan masa depan, termasuk di dalamnya untuk investasi; dan yang ketiga untuk sosial, misalnya bersedekah. Dengan demikian anak-anak telah diajarkan sejak dini untuk mengimplementasikan literasi finansial dalam hidupnya.

Menurut OJK (Literasi OJK, 2016) Literasi keuangan diartikan sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengkomunikasikan informasi terkait jasa keuangan untuk mengatasi mencapai kesejahteraan hidup. Salahsatu bentuk yang dianjurkan dalam Permendikbud 23/2015, Peserta didik membiasakan diri untuk memiliki tabungan dalam berbagai bentuk (rekening bank, celengan, dan lainnya). 

Di SMK, literasi Keuangan merupakan kecakapan yang sangat dibutuhkan, karena SMK mempersiapkan lulusannya antara lain untuk menekuni kewirausahaan. Oleh karena itu Literasi keuangan merupakan jenisliterasi yang wajib dipahamkan di kalangan siswa SMK.

f. Literasi Budaya dan Kewargaan
Literasi Budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Literasi Kewargaan adalah kemampuan dalam memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara.

Artinya, bahwa literasi budaya dan kewargaan ini, tidak hanya dalam lingkup sebagai warganegaraan sebagai global. Misalnya, warga negara Indonesia sebagai warga regional di tingkat ASEAN maupun warga bangsa di dunia. Etika, kepatutan dan budaya dari negara tetangga dan sesama warga bangsa perlu dipahami dan dihargai untuk dapat hidup serasi secara bersama.

Pemahaman Literasi Budaya dan kewargaan bagi peserta didik SMK, akan sangat membantu dalam menjadikannya sebagai pertimbangan untuk menciptakan produk dan jasa yang dapat diterima oleh masyarakat. Dngan kecakapan Literasi Budaya dan Kewargaan, siswa SMK dapat berinovasi dan mengembangkan kreativitas berdasarkan kearifan local maupun kebutuhan global.

2. Tiga Tahapan Pelaksanaan 
Pada dasarnya ada tiga tahapan pelaksanaan GLS di sekolah, dimulai dari Tahap Pembiasan, Tahap Pengembangan, sampai pada tahap Pembelajaran. Berikut adalah gambaran tiga tahapan itu.

Secara lebih rinci, ihwal ketiga tahapan pelaksanaan GLS dapat dipelajari dalam Desain Induk GLS dan Buku Panduan GLS di SMK. 

Namun demikian, dalam perkembangannya sekolah dapat mengimplementasikan GLS tidak secara bertahap, namun secara simultan antara kegiatan pembiasaan, pengembangan maupun pembelajaran dengan bentuk kegiatan sesuai dengan kebutuhan di sekolah.

3. Strategi Membangun Budaya Literasi
Pembangunan budaya literasi di sekolah hendaknya berfokus pada tigal hal sebagai berikut (Beers dkk, 2009). 
a. Mengkondisikan lingkungan fisik yang kaya literasi
b. Mengupayakan lingkungan sosial dan afektif sebagai model komunikasi yang literat
c. Mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademik yang literat

Penjelasan lebih lengkap mengenai hal ini dapat dicermati dalam buku “Desain Induk GLS.” 

4. Strategi Membangun Budaya Literasi
Untuk memberi penjelasan lebih lanjut, berikut ini secara berturu-turut akan dijelaskan kegiatan konkrit yang dapat dilaksanakan di sekolah dalam mengembangan Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah melalui literasi, yang meliputi, Kegiatan 15 Menit Membaca, Pojok Baca dan Perpustakaan Kelas, serta Lingkungan Kaya Teks.

a. Kegiatan 15 Menit Membaca
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomer 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti mengamanatkan warga sekolah untuk membaca selama 15 menit sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Membaca buku nonteks pelajaran merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan budi pekerti karena buku-buku tersebut merupakan sarana yang efektif untuk mengajarkan nilai moraltanpa menggurui. Selain itu, kegiatan membaca membuat lingkungan sekolah menyenangkan karena warga sekolah dapat memilih bacaan yang sesuai dengan minat mereka.

Tujuan Pembiasaan 15 menit Membaca:
  1. Menjadikan seluruh warga sekolah sebagai pembelajar sepanjang hayat agar mampu mengembangkan potensi diri seutuhnya.
  2. Memberi pengalaman membaca yang menyenangkan kepada peserta didik
Prinsip-Prinsip pembiasaan 15 menit membaca sebelum pembelajaran:
  1. Manajemen Sekolah menetapkan waktu 15 menit membaca sebelum pembelajaran setiap hari
  2. Buku yang dibaca adalah buku nonpelajaran.
  3. Peserta didik dapat diminta membawa bukunya sendiri dari rumah.
  4. Buku yang dibaca adalah pilihan peserta didik sesuai minat dan kesenangannya.
  5. Kegiatan membaca buku di tahap pembiasaan tidak diikuti oleh tugas-tugas yang bersifat tagihan/penilaian.
  6. Kegiatan membaca di tahap pembiasaan berlangsung dalam suasana yang santai, tenang, dan menyenangkan. Suasana ini dapat dibangun melalui pengaturan tempat duduk, pencahayaan yang cukup terang dan nyaman untuk membaca, poster-poster tentang pentingnya membaca.
  7. Kegiatan membaca di tahap pembiasaan berlangsung dalam suasana yang santai, tenang, dan menyenangkan. Suasana ini dapat dibangun melalui pengaturan tempat duduk, pencahayaan yang cukup terang dan nyaman untuk membaca, poster-poster tentang pentingnya membaca.
  8. Dalam kegiatan 15 menit membaca, guru juga ikut membaca buku selama 15 menit.

Beberapa metode membaca dalam kegiatan 15 menit membaca
Agar pelaksanaan 15 menit membaca menjadi kegiatan yang menyenangkan, diperlukan variasi kegiatan membaca, sehingga peserta didik dapat memperoleh pengalaman membaca yang mengesankan. Beberapa metode membaca antara lain:

1) Membaca Nyaring (read Aloud)
Mungkin kita beranggapan bahwa membaca nyaring (read Aloud) hanya berlaku bagi kanak-kanak saja. Tetapi ternyata tidak. Karena Membaca nyaring juga bisa berguna bagi remaja dan bahkan orang dewasa. Karena mendengarkan orang yang membaca dengan ucapan dan intonasi yang benar akan memudahkan kita memahami bacaan. Contohnya, kita sering dengan seksama mendengarkan / menonton pembacaan berita di televisi.

Read Aloud, pada dasarnya adalah kegiatan membacakan buku oleh guru kepada muridnya, namun di SMK bisa dikreasikan membacakan buku untuk temen sekelasnya. Hal ini juga akan dapat menjadi penguatan kompetensi bagi siswa bidang keahlian tertentu, misalnya Pariwisata atau Broadcasting. Dalam kegiatan 15 menit membaca di SMK dapat pula dipraktikkan oleh siswa secara bergantian.

2) Membaca Mandiri 
Dalam membaca mandiri, siswa memilih bacaan dan membaca secara mandiri. Dalam membaca mandiri, biasanya dilaksanakan dengan kegiatan Membaca dalam hati (Sustained Silent reading/SSR). Jim Trelease (2006,2008:113), dalam buku Read-Aloud Handbook, menjelaskan manfaat membaca dalam hati: (a) memungkikan seseorang membaca cukup lama dan cukup jauh sehingga aktivitas membaca menjadi otomatid; (b) memberi perspektif baru kepada para siswa --sebagai bentuk rekreasi; (c) bisa menghasilkan perubahan-perubahan positif dalam sikap terhadap perpustakaan, membaca secara sukarela, membaca karena ditugaskan dan pentingnya membaca.

3) Membaca Bersama (Shared Reading)
Guru membacakan buku untuk siswa dengan nyaring. Dalam membaca bersama siswa menyimak buku yang sama (bila untuk kanak-kanak, biasanya menggunakan buku besar yang para siswa dapat melihat langsung gambar dan tulisan yang dibaca guru. Guru membaca dengan menunjuk tulisan). Membaca bersama dapat digunakan untuk pemahaman maupun untuk merangkum. Selama proses membaca, peserta didik boleh bertanya, dapat pule berhenti sejenak untuk membahas isi.

Untuk siswa SMK, membaca bersama bisa dipimpin oleh guru dan bergiliran peserta didikk membacakan dengan nyaring. Selama proses pembacaan guru dapat mengehntikan sejenak kemudian menanyakan sesuatu utuk mendiskusikan isi bacaan.

b. Memilih Bahan Bacaan
Dalam kegiatan membaca 15 menit sebelum kegiatan pembelajaran, peserta didik perlu dibantu untuk memilih buku yang tepat dengan kemampuan membaca mereka agar kegiatan membaca menjadi menyenangkan bagi peserta didik. Buku-buku yang dibaca peserta didik pada kemampuan literasi awal mereka berperan penting dalam meningkatkan minat baca dan kesiapan belajar mereka. Karenanya, pendidik dan peserta didik perlu membekali diri dengan kemampuan memilih bahan bacaan untuk mengembangkan minat baca. Selain itu, peserta didik perlu terpapar beragam jenis buku. Buku yang baik dapat digunakan oleh pendidik untuk mengembangkan diskusi dengan peserta didik, sehingga memperluas wawasan dan daya nalar mereka, serta memperdalam pemahaman mereka.

Elemen apa saja yang perlu dipertimbangkan dalam memilih bahan bacaan yang baik?
Siswa SMK, yang umumnya berusia 15-19 tahun, sudah termasuk kelompok usia membaca dewasa muda, yang digolongkan pada kelompok pembaca Advance. Untuk bahan bacaan siswa SMK, hal yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan buku antara lain adalah:

Sesuai dengan tingkat kemampuan membaca peserta didik.
Konten bacaan yang sesuai, yaitu buku yang memiliki teks yang padat dan mudah dicerna. Untuk buku cerita yang mengandung informasi yang kaya, mengandung nilai optimism, besifat inspiratif, mengandung nilai moral yang disampaikan tanpa menggurui.

Ilustrasi diperlukan untuk menunjang makna bahan bacaan. Namun demikian untuk siswa SMK tidak selalu memerlukan ilustrasi.

c. Pojok Baca dan Perpustakaan Kelas
Perpustakaan merupakan salah satu prasarana literasi yang seharusnya berfungsi sebagai pusat pembelajaran di sekolah. Pengembangan dan penataan perpustakaan menjadi bagian penting dari pelaksanaan program literasi sekolah dan pengelolaan pengetahuan yang berbasis pada bacaan. Perpustakaan yang dikelola dengan baik mampu meningkatkan minat baca warga sekolah dan menjadikan mereka pembelajar sepanjang hayat. 

Dengan memperhatikan kesiapan sumber daya di sekolah, sekolah dapat mengembangkan prasarana literasi. Berikutnya, dalam prosesnya untuk mengembangkan perpustakaan berfungsi optimal, perpustakaan sekolah idealnya berperan dalam mengkoordinasi pengelolaan sudut buku kelas, area baca, dan prasarana literasi lain di sekolah. Ihwal ketiganya dipaparkan pada tabel berikut.

PERPUSTAKAAN SEKOLAH:
Pusat pengelolaan pengetahuan dan sumber-sumber belajar di sekolah, dikelola di bawah tanggungjawab kepala sekolah. Dalam pengoperasiannya, perpustakaan sekolah dilaksanakan oleh tim perpustakaan yang terdiri atas tenaga yang terlatih di dalam pengelolaan bahan literasi. Untuk optimalisasi layanan, perpustakaan dapat dilengkapi berbagai system dan aplikasi untuk pencatatan pengunjung, aktivitas membaca, dan pengembangan budaya literasi sekolah

POJOK BACA
Pojok baca, merupakan area baca yang diciptakan di sekolah yang meliputi semua area di lingkungan sekolah (serambi, koridor, halaman, kebun, kantin, dll) yang ditata untuk eningkatkan minat baca peserta didik. Hal ini merupakan upaya penciptaan lingkungan fisik sekolah yang mendukung kegiatan literasi sekolah. 

Pojok baca perlu dikondisikan untuk menumbuhkan suasana nyaman, yang dilengkapi dengan prasarana membaca (meja, kursi, rak-rak buku) untuk membuat peserta didik betah membaca. Misalnya, membuat ruang baca terbuka di sekolah, dengan menyediakan kursi dan meja di taman sekolah; dapat pula dibangun gazebo, dan lainnya

PERPUSTAKAAN KELAS
Perpustakaan kelas, yaitu sebuah sudut di kelas yang dilengkapi dengan koleksi buku yang ditata secara menarik untuk meningkatkan minat baca peserta didik. Sudut di rungan kelas ini dapat digunakan untuk memajang koleksi bacaan dan karya peserta didik. 

Perpustakaan kelas, dalam digunakan sebagai tempat penyediaan buku pembelajaran di kelas, sekaligus menjadi perpanjangan fungsi perpustakaan sekolah yang mendekatkan buku kepada peserta didik. Untuk menumbuhkan rasa memiliki dan menanamkan rasa tanggungjawab, maka pengelolaan perpustakaan kelas dapat ditugaskan kepada peserta didik. Agar kolekse selalu segar dan menarik dilakukan penggantian koleksi bahan bacaan secara berkala dengan bahan dari koleksi perpustkaan maupun koleksi yang dimiliki peserta didik.

d. Lingkungan kaya Teks/ Kaya Literasi 
Lingkungan kaya Literasi/ Teks, adalah perwujudan lingkungan sekolah yang disajikan dalam berbagai bentuk teks untuk memberikan informasi, memberi petunjuk, peringatan, maupun penyajian karya dan prestasi siswa maupun sekolah. Secara ringkas lingkungan kaya teks/ kaya literasi dapat dijelaskan dalam chart yang diterbitkan oleh Satgas Gerakan Literasi Sekolah.

5. Pemantauan, Evaluasi, dan Tindak Lanjut
Kegiatan ini pada prinsipnya merupakan salah satu siklus agar implementasi GLS dapat maju berkelanjutan. Pemantauan dapat dilakukan setiap saat, namun disarankan dilaksanakan tiap bulan sekali. Sementara itu, evaluasi dapat dilaksanakan tiap satu semester ataupun satu tahun pelajaran. Berdasarkan pemantauan dan evaluasi yang dilakukan secara terprogram, permasalahan implementasi GLS dapat diketahui kekurangan dan keunggulan gerakan tersebut. Hal ini akan memudahkan untuk melakukan rencana tindak lanjut pada tahun pelajaran berikutnya ataupun pada rencana strategis jangka menengah berikutnya.

BAB III
STRATEGI LITERASI DALAM PEMBELAJARAN

A. Tujuan
Tujuan utama penggunaan strategi literasi dalam pembelajaran adalah untuk membangun pemahaman siswa, keterampilan menulis, dan keterampilan komunikasi secara menyeluruh. Selama ini berkembang pendapat bahwa literasi hanya ada dalam pembelajaran bahasa atau di kelas bahasa. Pendapat ini tentu saja tidak tepat karena literasi berkembang rimbun dalam bidang matematika, sains, ilmu sosial, teknik, seni, olahraga, kesehatan, ekonomi, agama, prakarya dll. (cf. Robb, L, 2003).

Konten dalam pembelajaran adalah apa yang diajarkan, adapun literasi adalah bagaimana mengajarkan konten tersebut. Oleh sebab itu, bidang-bidang yang telah disebutkan dan lintas bidang memerlukan strategi literasi dalam pembelajarannya. Strategi literasi dalam pembelajaran akan membentuk karakteristik siswa dan mengembangkan keterampilan abad ke-21 (keterampilan berpikir tingkat tinggi). 

B. Kecakapan Literasi 
Agus Marwan menjelaskan, hidup di abad 21 adalah hidup di era informasi. Keterbukaan informasi yang nyaris tanpa batas menjadikan siswa harus berkecakapan literasi. Ragam mata pelajaran mengharuskan siswa mampu membaca dengan baik. Untuk itulah, kecakapan literasi menjadi penting. Literasi membantu siswa memahami teks lisan, tulisan, audio, maupun gambar atau visual. Dengan demikian, semakin baik literasi siswa, semakin baik pula prestasi belajarnya “Pengertian literasi tidak hanya membaca dan menulis tetapi juga mampu menggali, mengolah, mengidentifikasi dan menggunakan informasi yang kita peroleh ke dalam bentuk sikap dan mengkomunikasikannya kepada orang lain,” (http://sorotdaerah.net/perlunya-anak-menguasai-kecakapan-literasi-di-abad-21/)

Melalui kegiatan pembelajaran (pendahuluan, inti, dan penutup) guru dapat merencanakan kegiatan yang dapat meningkatkan kecakapan literasi siswa sebagai berikut:
  1. Siswa mampu melakukan prediksi terhadap materi pembelajaran atau bacaan.
  2. Siswa mampu melakukan inferensi (mengembangkan pemahamannya dengan menggunakan petunjuk visual atau tulisan).
  3. Siswa mampu memahami materi pembelajaran/isi bacaan/konsepsi yang disajikan dalam bacaan serta mendeskripsikannya dengan baik.
  4. Siswa mampu menyimpulkan materi pembelajaran atau bacaan dan dengan baik, dan mengkomunikasikan pendapatnya terhadap materi pembelajaran atau bacaan secara verbal dan tulisan.

Selama proses pembelajaran, pada tahap-tahap pembelajaran baik pada pendahuluan, inti pembelajaran maupun pada tahap penutup, guru seharusnya merencanakan pembelajaran dan dapat mempraktikkan aktivitas yang dapat meningkatkan kecakapan literasi. Hal tersebut dapat dilakukan dalam Strategi Literasi dalam Pembelajaran yang menurut Wilson dan Chavez (2014), meliputi Strategi Pemahaman Wacana/ teks dan Pengembangan Kompetensi Representasi Multimoda, yang dijelaskan sebagai berikut:

a. Strategi Pemahaman Wacana/ Teks, yang meliputi pemahaman terhadap teks baik sebelum, ketika membaca maupun setelah membaca, yang masing-masing berupa kecakapan-kecakapan sebagai berikut.

1. Sebelum Membaca, siswa mampu: 
a) membuat memprediksi, yaitu mampu memperkirakan isi bacaan menggunakan fitur (gambar, judul, jenis, sumber bacaan) pada bagian preliminari bacaan (sampul/bagian judul/ halaman-halaman awal, dll.), dan
b) mengidentifikasi tujuan membaca, antara lain dapat menyusun daftar pertanyaan (minimal 3) tentang hal-hal yang mereka ingin ketahui dari bacaan; atau melakukan curah gagasan tentang hal-hal yang mereka sudah atau ingin ketahui terkait bacaan.

2. Ketika Membaca, siswa mampu:
a) mengidentifikasi informasi yang relevan, antara lain menggunakan fitur-fitur bacaan (paragraf, ide pokok, ide pendukung, kosakata, jenis, struktur teks, elemen visual dll) untuk memahami bacaan, mengidentifikasi ide dan argumen yang penting pada bacaan;
b) memvisualisasi, antara lain menerapkan strategi membaca untuk mengingat informasi penting pada bacaan, menyajikan dalam moda yang lain; 
c) membuat inferensi (mengembangkan pemahamannya dengan menggunakan petunjuk visual atau tulisan); dan
d) membuat keterkaitan, antara lain menerapkan strategi membaca untuk mengingat informasi penting pada bacaan.

3. Setelah membaca, siswa mampu:
a) membuat ringkasan, antara lain menjawab pertanyaan terkait bacaan, mengkomunikasikan pemahamannya terhadap bacaan secara verbal dan gambar/tulisan, berpartisipasi terhadap kegiatan tindak lanjut setelah membaca;
b) mengevaluasi teks, antara lain, mengkomunikasikan tanggapannya terhadap bacaan secara verbal dan gambar/tulisan; mengkomunikasikan analisis dan evaluasinya terhadap bacaan secara verbal dan gambar/tulisan; dan
c) mengkonfirmasi, merevisi atau menolak prediksi, antara lain, mampu membuat pertanyaan terhadap atau terkait bacaan, mampu mengembangkan pengetahuan terkait bacaan melalui riset lanjut terhadap bacaan lain yang relevan. 

b. Kompetensi Representasi Multimoda, siswa mampu meliputi:
  1. mengubah dari satu moda ke moda lain;
  2. menjelaskan keterkaitan antara satu dan dua moda untuk mengkomunikasi pesan yang sama;
  3. memerikan (menceritakan/ melukiskan/ mengatakan bagaimana representasi yang berbeda menjelaskan fenomena yang sama dengan cara yang berbeda;
  4. memilih, mengkombinasikan, dan/atau menghasilkan representasi yang standard an non standar untuk mengkomunikasikan konsep tertentu; dan
  5. mengevaluasi representasi multimoda dan menjelaskan mengapa satu representasi lebih efektif daripada representasi lain untuk tujuan tertentu.

C. Peta Konsep Strategi Literasi dalam Pembelajaran

Dalam bentuk peta konsep, strategi literasi dalam pembelajaran (lihat gambar pada berkas).

D. Indikator Literasi dalam Pembelajaran
Pada dasarnya, silabus berbagai mata pelajaran di SMK sudah menunjukkan adanya strategi literasi dalam pembelajaran. Penuangan silabus ke dalam langkah-langkah pembelajaran dapat diceksilangkan dengan indikator literasi dalam pembelajaran. Berikut adalah daftar cek untuk indikator literasi yang perlu ada untuk menguatkan langkah-langkah pembelajaran. Dalam hal ini nomor yang tersaji tidak merujuk pada urutan (dalam pembelajaran hal tersebut tidak harus urut).

Dalam pembahasan mengenai indikator literasi tersebut, ada beberapa istilah teknis yang dikembangkan di antaranya:
(1) Istilah “teks” dalam literasi dapat berwujud teks tulis, audio, visual, audiovisual, digital, kinestesik, dan sebagainya. Sejalan dengan itu, istilah "membaca" yang digunakan dalam kegiatan literasi juga merujuk pada membaca dalam arti luas. 
(2) Think-aloud merupakan strategi untuk membunyikan secara lisan apa yang ada di dalam pikiransiswa atau guru pada saat berusaha memahami bacaan, memecahkan masalah, atau mencoba menjawab pertanyaan guru atau siswa lain. Strategi ini dapat membantu siswa memonitor pemahamannya, berpikir tingkat tinggi, dan membentuk karakter.
(3) Inferensi merupakan simpulan sementara berdasarkan informasi yang tersirat dalam teks. Inferensi dapat didukung dengan ciri/bukti/fitur khusus yang ada dalam teks.
(4) Keterkaitan antar teks merujuk pada keterkaitan teks dengan teks yang pernah dibaca sebelumnya, teks dengan pengalaman pribadi, atau teks dengan hal lain yang membantu siswa membentuk karakter dan berpikir tingkat tinggi.
(5) Istilah “ringkasan” dalam arti luas diperoleh dengan kegiatan meringkas isi, mengidentifikasi gagasan utama, menceritakan kembali, membuat sintesis, membuat pertanyaan tentang isi, dan sebagainya. Kegiatan ini membantu siswa membentuk karakter dan berpikir tingkat tinggi.
(6) Evaluasi teks dapat berwujud antara lain membuat opini terkait teks; membuat penilaian langsung; mengaitkan dengan teks lain; mengaitkan dengan pengalaman pribadi, pengetahuan sebelumnya, isu lokal dan global; memilih/menentukan moda yang paling sesuai untuk tujuan tertentu, misalnya: untuk menjelaskan siklus kehidupan, dipilih moda gambar siklus (bukan teks tulis).Kegiatan ini membantu siswa membentuk karakter dan berpikir tingkat tinggi.
(7) Moda merujuk pada bagaimana atau dengan cara apa pesan disampaikan (teks tulis, audio, visual, audiovisial, digital, kinestesik, dsb.). Moda yang lain (selain cetak) dapat berwujud visualisasi teks dan/atau respon indrawi lain; dramatisasi; refleksi pemahaman dengan membuat teks bentuk lain: lisan, tulisan, audio, visual, audio visual, kinestesik.
(8) Pengatur grafis (graphic organizers) adalah berbagai bentuk tabel atau grafik untuk membantu pemahaman dengan cara mengorganisasikan ide/pikiran/gagasan.
(9) Pemahaman makna kata-kata sulit dalam teks dapat menggunakan petunjuk dalam teks (konteks).

E. Alat Bantu
Penggunaan alat bantu pengatur grafis dalam pembelajaran yang menggunakan strategi literasi ditunjukkan dalam daftar berikut. 

BAB IV
PENUTUP
Sebagaimana telah disebutkan dalam bab sebelumnya, bahwa tujuan utama penggunaan strategi literasi dalam pembelajaran adalah untuk membangun pemahaman siswa, keterampilan menulis, dan keterampilan komunikasi secara menyeluruh. Literasi berkembang dalam berbagai bidang, antara lain matematika, sains, ilmu sosial, teknik, seni, olahraga, kesehatan, ekonomi, agama, prakarya, sehingga Strategi Literasi dalam Pembelajaran dapat diterapkan di semua mata pelajaran, dan dapat dikembangkan oleh guru secara kreatif sehingga mampu mengembangkan kompetensi peserta didik

Para guru hendaknya memahami bahwa konten dalam pembelajaran adalah apa yang diajarkan, sehingga literasi adalah bagaimana mengajarkan konten tersebut. Oleh sebab itu, bidang-bidang yang telah disebutkan dan lintas bidang memerlukan strategi literasi dalam pembelajarannya. Strategi literasi dalam pembelajaran akan membentuk karakteristik siswa dan mengembangkan keterampilan abad ke-21 yang antara lain adalah keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Dengan Materi Penyegaran dan pendampingan bagi Instruktur Kurikulum 2013 ini semakin menginspirasi dan mendorong para guru untuk menggunakan berbagai teks dalam mengembangkan sikap literat para guru dan peserta didik. Dengan demikian akan tercipta generasi yang mampu mengakses, memahami dan menggunakan informasi secara cerdas, serta pembelajar sepanjang hayat. 

Selengkapnya silahkan lihat atau download berkas mengenai Strategi Literasi dalam Pembelajaran Kurikulum 2013 di SMK di bawah ini.

File Preview:

Strategi Literasi dalam Pembelajaran Kurikulum 2013 di SMK





Download:
Strategi Literasi dalam Pembelajaran Kurikulum 2013 SMK - GLS SMK Penyegaran Instruktur Kurikulum SMK 2018.doc
Strategi Literasi dalam Pembelajaran Kurikulum 2013 SMK - GLS SMK Penyegaran Instruktur Kurikulum SMK 2018.pptx
Sumber: http://psmk.kemdikbud.go.id

Bagikan/Share halaman ini melalui Facebook

Klik G+1 untuk merekomendasikan ke teman/rekan Anda

Silahkan bagikan dan beritahukan atau rekomendasikan berkas ini ke teman atau rekan Anda melalui sosial media dengan menekan icon-icon di bawah ini. Terima Kasih.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »